3.jpg1.jpg4.jpg2.jpg


Setia sampai mati -- Kisah perjalanan Michael Sattler menjadi pengikut Yesus yang sejati Setia sampai mati -- Kisah perjalanan Michael Sattler menjadi pengikut Yesus yang sejati

 

Michael Sattler dilahirkan pada tahun 1490 di Jerman. Ia menjadi seorang pastur, kemudian seorang Kepala biara laki-laki Benediktan. Pada bulan Mei 1525, Michael Sattler sampai pada suatu kesimpulan bahwa posisinya tidaklah Alkitabiah. Ia meninggal­kan biara karena sebuah panggilan dari Tuhan. Ia menikah dengan Margaretha yang sebelumnya adalah seorang biarawati yang terpaksa melarikan diri ke Swiss karena Sang Raja Katolik berusaha membasmi semua "musuh" Gereja Katolik.

Akhirnya, Michael menjadi pengikut Yesus Kristus yang sejati.

Ia memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang yang setia, yaitu secara rahasia di hutan-hutan dan di rumah-rumah pribadi mereka. Impiannya adalah sebuah gereja yang man­diri, yang terdiri dari orang-orang percaya yang sejati yang dilahirkan kembali, terpisah dari dunia, tidak memakai kekerasan atau senjata, dan hanya orang percaya yang sejati dibaptis. 

Michael bergabung dengan para orang percaya yang disebut sebagai “Persaudaraan". Oleh musuh-musuh, mereka disebut sebagai "Anabaptis".

Banyak pengikut persaudaraan itu dibunuh - dari Gereja Katolik, tetapi juga dari Gereja Protestan. Pada tahun 1527, Michael Sattler disiksa dengan kecam, kemudian dibakar. Istrinya, Margaretha, di­teng­gelam­kan. Mereka setia sampai mati.

"Oleh karena itu, karena kita mempunyai begitu besar awan saksi-saksi yang mengelilingi kita, 
marilah kita membuangkan segala rintangan dan dosa yang mudah menjerat kita,
dan marilah kita berlomba dengan ketekunan dalam perlombaan yang disediakan sebelumnya bagi kita,
sambil memandang kepada Yesus, Penguasa dan Penyempurna iman..." (Ibrani 12:1-2)

 

 




Data
Size 837.8 KB
Created 02.03.2012 11:46:44


Dapatkan buku ini sekarang - langsung dan cuma-cuma!

Jika Anda menginginkan buku ini langsung melalui internet, mengunduh sekarang juga dengan menekan tombol ini saja:
© Sastra Hidup Indonesia